Media Kalimaro - Stasiun Kedungjati yang terletak di
Kabupaten Grobogan Jawa Tengah ini adalah bagian dari awal sejarah
perkeretaapian di Indonesia. Stasiun ini dibangun oleh perusahaan NIS
(Nederland Indische Spoorweg Maatschappij) kurang lebih enam tahun
setelah jalur kereta api Samarang - Tanggung yang merupakan jalur
pertama di pulau Jawa beroperasi pada tahun 1867. Jalur pertama tersebut
diteruskan menjadi jalur Semarang — Yogyakarta
melalui Solo agar lebih menguntungkan bagi kepentingan militer Belanda
pada masa itu serta pengangkutan hasil perkebunan. Stasiun Kedungjati
mulai dioperasikan, bersamaan dengan selesai dan dibukanya KA jalur Semarang - Yogyakarta untuk umum.
![]() |
| Stasion Kedungjati Tahun 1870 |
Stasiun Kedungjati memiliki emplasemen
ganda dengan bangunan utama berada di antara dua rel di sisi utara dan
selatannya. Salah satu sisi relnya tertutup atap yang menjadi satu
dengan bangunan stasiun. Stasiun ini terdiri dari satu bangunan utama
yang di dalamnya terdapat ruang tunggu (peron), loket karcis, kantor
pengelola dan lain-lain.
Stasiun Kedungjati semula dibangun
dengan konstruksi kayu dan baru pada tahun 1907 dibangun kembali dengan
konstruksi baja dan dinding bata. Arsitektur bangunannya dibuat mirip
dengan Stasiun Willem I atau Stasiun Ambarawa yang kini jadi Museum
Kereta Api Ambarawa. Bangunan stasiun dirancang sebagai bangunan yang
monumental berupa bangunan utama berkonstruksi baja bentang lebar yang
menaungi ruang tunggu, ruang administrasi, ruang kepala stasiun dan
loket penjualan karcis. Sebagai bangunan publik stasiun ini dibangun
dengan kualitas material yang mampu bertahan hingga ratusan tahun.
Penghawaan bangunan pun dirancang teliti dengan ruang tunggu berupa
ruang setengah terbuka yang dibatasi tembok rendah dan atap tinggi
sehingga udara mengalir lancar meskipun pada saat stasiun sedang ramai
oleh calon penumpang.
Fasilitas stasiun (ruang kepala stasiun,
administrasi, dan loket penjualan karcis) di susun secara linier
sepanjang bangunan yang berbentuk empat persegi panjang sejajar rel.
Keunikan arsitektur Stasiun Kedungjati
terutama terletak pada penggunaan bata ekspos sebagai ornamen dan aksen
pada pinggiran pintu, jendela dan dinding yang inspirasinya berasal dari
arsitektur Eropa abad 19. Ciri khas tersebut saat ini dipertajam dengan
finishing cat yang menonjolkan karakter ornamen bata ekspos tersebut.
Sampai saat ini kondisi bangunan Stasiun Kedungjati masih sangat baik
dan terawat.
Ruang - ruang administrasi terlihat
seperti berupa 'bangunan di dalam bangunan' karena konstruksi berdinding
bata tersebut dinaungi oleh atap baja yang lebih tinggi.
Susunan bata ekspos yang membingkai pintu-pintu dan jendela-jendela serta menjadi ornamen yang menghiasi dinding bangunan. Gaya yang terinspirasi dari arsitektur Eropa abad 18.
Konstruksi baja yang digunakan pada struktur bangunan utama dan emplasemen masih terlihat kokoh hingga saat ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar